Tampilkan postingan dengan label Ayah ASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ayah ASI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juli 2020

Podcast Ayah ASI isinya apa sih?



Jam menunjukkan pukul lima lewat empat puluh tujuh menit ketika gua menghentikan mobil di depan sebuah rumah besar yang dihimpit oleh dua buah pohon tinggi. Awan gelap memayungi langit yang menumpahkan tangisnya membasahi bumi. Sesekali kilat menyambar, menambah suasana mencekam saat itu. Punten pak, ini cerita ayah ASI loh bukan cerita horor. Oh iya maaf-maaf, suka terbawa suasana nih kalau habis nonton film thriller. He he he.


Gua segera menekan beberapa nomor di ponsel gua. "Hallo Im, Boim, di mana loe? Nomor 16 kan ya tempatnya?" tanya gua yang kebingungan. "Iya, kay! Buruan dah mari, gua masih sendirian nih. Si mamat belum datang." jawab suara di seberang sana. "Ok, gua parkir dulu nih!" lanjut gua sambil memarkirkan mobil di depan rumah yang terletak di jalan Brawijaya itu.


For your information, Boim yang ada di cerita ini bukanlah Boim Lebon temannya si Lupus yang terkenal dengan permen karet dan rambut jambulnya itu ya. Boim di sini adalah salah satu dedengkotnya Ayah ASI Jakarta, sementara mamat yang dimaksud di atas adalah Rahmat Hidayat co-founder Ayah ASI Indonesia. Terus mau ngapain sih kami berkumpul? 


Setelah memastikan kendaraan aman, gua segera mengambil tas berisi tripod dan kamera serta bergegas masuk ke rumah tadi. “Assalamuallaikum !” salam gua sambil membuka pintu depan bangunan itu. Sekilas terlihat sesosok bayangan besar yang sedang duduk di kursi ruang tunggu. “Wa’alaikumsalam, masuk masuk Kay! Gua udah kayak tuan rumah aja nih di sini.” terdengar suara dari sosok tadi yang ternyata adalah Boim.


“Si mamat udah on the way, bentar lagi nyampe palingan”, sambung Boim. “Kita mau ngapain sih di sini?” tanya gua sambil meletakan peralatan yang gua bawa tadi. "Si mamat ngajakin bikin podcast Ayah ASI nih. Katanya sih biar mengikuti perkembangan jaman. Netizen sekarang kan lagi demen buat dengerin podcast podcast gitu, nah kita bikin juga deh biar gak ketinggalan."



Kendala dalam produksi podcast


Well, ternyata membuat podcast itu tidak semudah yang kami kira. Gak cuma asal colok mikrofon terus cuap-cuap sesuka hati. Jika kamu sudah mendengarkan podcast kami yang episode pertama pasti kamu akan menyadari bahwa suara antar podcaster (pembawa acara podcast) tidak berimbang. Suara boim lebih terdengar jelas dibandingkan suara gua. Hal ini disebabkan karena kualitas mikrofon yang digunakan berbeda dan juga jarak antara mulut dengan mikrofon yang terlalu jauh.


Kendala di atas akhirnya dapat kami atasi di episode-episode berikutnya sampai akhirnya wabah corona melanda yang menyebabkan kami tidak bisa bertatap muka untuk melanjutkan produksi podcast. Setelah mencoba beberapa metode, akhirnya kami memutuskan melanjutkan produksi melalui rekaman aplikasi zoom. Hasilnya sudah bisa kalian dengarkan di episode 4 dan yang terakhir kali rekaman kemarin di tanggal 10 Juli 2020 kami sempat mengundang emak-emak followers-nya @Id_AyahASI buat ngobrolin tentang cara berkomunikasi dengan suami dalam hal urusan anak dan rumah tangga.


Apa aja yang dibahas di Podcast Ayah ASI?


Rencana ke depannya kami ingin lebih menyeriusi podcast Celoteh Ayah ASI ini dengan mengundang narasumber yang berkompeten di bidangnya serta mengajak followers Ayah ASI untuk ikut bersuara di podcast ini. Tema-tema yang akan diangkat masih seputar soal pengasuhan, hubungan suami-istri dan tentu saja tentang menyusui. Ya masa Ayah ASI ngomongin politik? Kan gak nyambung ya, he he he..


Sejauh ini sudah ada lima episode Celoteh Ayah ASI yang kami rilis dan bisa kalian dengarkan di Spotify, Podtail, Google Podcast, Radiopublic, Hubhopper, Ivoox, dan breaker.audio. Kelima episode itu membahas tentang menjadi ayah, ngetes para mimin dengan soal-soal tentang asi dan menyusui, pembagian tugas di rumah, menghadapi mertua saat menyusui, dan kenapa sih suami masih suka nonton film porno.


By the way, ada yang tahu gak kenapa Podcast-nya kami beri nama Celoteh Ayah ASI? Sebetulnya gak ada alasan khusus sih, biar nyambung aja dengan judul bukunya Catatan Ayah ASI dan workshop-nya yang bernama Contekan Ayah ASI. Doain aja kami bisa konsisten dan tetap istikamah untuk melakukan edukasi tentang ASI dan menyusui ini ya. Salam Nenen!


Minggu, 19 Juli 2020

Pengalaman syuting bareng Unicef dan Ayah ASI


Gimana serunya kalau gua syuting video kampanye ASI bareng UNICEF dan Ayah ASI? Hal itu yang pertama kali terbesit di pikiran gua saat menerima pesan whatsapp dari seseorang bernama Pipit.


"Selamat Pagi Mas Oskar.

Perkenalkan saya Pipit, dapat kontak mas Oskar dari mas Mamat Ayah ASI. Begini mas, kami ada permintaan untuk mengajak mas Oskar berpartisipasi sebagai talent dalam pembuatan video testimoni mengenai kegiatan mendukung istri untuk menyusui anak dengan judul ASI tak tergantikan, jangan sia-siakan. Kegiatan ini berkaitan dengan kampanye bersama UNICEF. Kira-kira apakah mas Oskar berkenan jika saya telepon untuk menjelaskan lebih detailnya?" begitu bunyi pesan whatsapp yang langsung gua balas dengan jawaban, "Boleh mbak."


Ya iyalah gua pasti bakal jawab bersedia! Gila aja loe Ndro, kesempatan buat kerjasama dengan sebuah organisasi internasional ada di depan mata masa mau disia-siakan sih. Singkat cerita, ditelponlah gua dengan mbak Pipit ini yang menjelaskan bagaimana kampanyenya akan dibuat dan detil lainnya, kemudian akan diadakan reading skrip pada jum'at malam di lokasi syuting.


Jum'at, 17 Juli 2020 jam 7 malam kami berkumpul di lokasi syuting. Rombongan Ayah ASI yang akan syuting terdiri dari tujuh orang yaitu gua, om Sogi Indra Dhuaja, Kang Syafiq Pontoh, Kiki, Boim, Oji, dan Geraldo dari Bapak Rangkul. Di sana kita langsung bertemu dengan teman-teman dari production house yang akan menggarap videonya.


Reading skrip serta briefing berjalan dengan lancar hingga jam 9 malam. Ya namanya juga Ayah ASI ya, pasti aja becandaan dan ngocol ketika proses reading skrip apalagi kita sudah lama gak ketemuan. Ada aja yang dijadiikan bahan obrolan, mulai dari yang serius seperti obrolan seputar dunia pernenenan dan sex education buat anak sampai obrolan receh tentang game dan printilannya.


Minggu jam 6 pagi gua sudah berada di lokasi syuting di daerah Cipete. Sebelum melakukan pengambilan gambar, gua diminta buat make up terlebih dahulu. Seumur-umur baru dua kali gua pakai make up, pertama pas nikahan, yang kedua sekarang ini. Untung make up-nya cuma tipis aja, kalo tebal-tebal disangka ngelenong nanti gua ha ha ha.


Make up-an dulu sebelum syuting

Proses pengambilan gambar dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Lokasi syuting disemprot dulu menggunakan cairan desinfektan, crew yang berada di ruangan pun hanya beberapa orang saja dan tetap menjaga jarak. 


Di video kampanye ini kami akan diberikan beberapa pertanyaan yang perlu kami jawab berkaitan dengan pengalaman ketika memberikan dukungan kepada istri yang menyusui. Apa saja suka dukanya, bagaimana cara memberikan dukungan, dan lain-lain.




Sebetulnya gua sempat bertanya-tanya kenapa sih Unicef mau menggandeng Ayah ASI untuk kampanye ini? Sesuai judul kampanyenya yaitu “ASI tak tergantikan, jangan sia-siakan”, Unicef ingin menekankan pentingnya pemberian ASI Eksklusif dan bagaimana dukungan dari suami, orang tua, tenaga kesehatan, serta orang-orang di sekitar si ibu dapat memiliki peranan vital terhadap keberhasilan proses menyusui. Jadi selain Ayah ASI, Unicef juga menggandeng talent seorang kakek dan tenaga kesehatan yang mendukung ibu menyusui.


Nah balik lagi ke proses syuting video kampanyenya, walaupun sudah sering bikin video vlog tutorial di youtube ternyata gua tetap aja grogi ketika harus berhadapan dengan kamera dan crew ha ha ha. Untungnya gak terlalu banyak kesalahan yang gua buat sehingga tidak perlu di-take berkali-kali.


Sungguh membuat video kampanye itu membutuhkan effort yang sangat berat. Ini jadi pengalaman yang berharga buat gua sekaligus membanggakan karena bisa bekerjasama dengan sebuah organisasi internasional. Gimana hasil video kampanyenya? Tungguin aja di media sosialnya Unicef dan Ayah ASI pada bulan Agustus nanti.







Sabtu, 18 Juli 2020

Akhirnya gua memutuskan jadi Ayah ASI

Buku Catatan Ayah ASI


Ayah ASI? Makhluk apa itu? Mungkin sebagian dari kalian yang membaca tulisan ini sudah pernah mendengar tentang Ayah ASI tapi bagi kalian yang belum, gua akan menceritakan legenda makhluk mitologi ini. He he he .

 

Suatu hari di awal pernikahan gua pada tahun 2012, gua menemukan sebuah buku yang tergeletak di atas meja tamu ketika pulang dari kantor. Terlihat jelas judulnya “ Catatan Ayah ASI “. Ah palingan buku bacaan istri, pikir gua dalam hati. Selesai mandi dan makan malam gua melihat buku itu masih di tempat yang sama. Penasaran, akhirnya gua tanya ke istri, “ Itu buku apa bu?” “Baca aja!” jawab istri sambil tersenyum.

 

Ah ini pasti akal-akalan istri aja nih biar gua baca tentang asi pikir gua. Akhirnya gua mengurungkan niat untuk membaca buku itu dan pergi tidur.

 

Ketika terbangun menjelang subuh, gua melihat buku itu masih berada di posisinya semula. Penasaran, dengan judulnya, gua pun memutuskan untuk mengintip isinya. Baca dikit ah sambil menunggu azan subuh, pikir gua.

 

Seperti stigma yang sudah terbentuk dalam masyarakat kita, pada awalnya gua juga berpikir ngapain sih laki ngomongin tentang ASI? Bukannya anak itu urusan ibunya ya? Tapi setelah membaca tiap lembar buku itu gua seakan melihat cahaya Ilahi yang memberikan pencerahan pada diri gua. Bahasa yang lugas, to the point, khas obrolan kaum pria, membuat gua bisa memahami dengan baik apa yang ingin disampaikan buku ini.

 

Buku ini menceritakan kisah para penulisnya tentang bagaimana pengalaman mereka ketika istri melahirkan dan apa problem yang mereka hadapi. Pengalaman yang belum pernah gua rasakan ini tentu saja menjadi wawasan baru dan membuka pikiran gua betapa pentingnya peranan ayah dalam kehidupan seorang anak sejak dia lahir.

 

Memang seberapa pentingnya peran seorang ayah sih? Dr Utami Roesli pernah menyatakan berdasarkan penelitian diketahui bahwa lebih dari 98% ibu menyusui yang mendapatkan dukungan dari orang terdekatnya terutama suami, berhasil memberikan asi eksklusif bagi bayinya. Suami adalah support system yang sangat dibutuhkan sang istri sebagai pelindung, pemberi rasa nyaman, cheerleader, dan peran pembantu lainnya saat proses menyusui.

 

Sayangnya seperti yang sudah gua bilang di atas, kebanyakan kaum laki berpikir bahwa mengurus anak adalah hak prerogratif sang istri. Padahal bikinnya berdua, harusnya ngurus anaknya juga berdua kan ya? He he he.

Sebetulnya para ayah ini bukannya tidak mau ikut campur dalam urusan anak tapi kebanyakan lebih kepada gak tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu istri. Nah, karena itulah hadir Ayah ASI yang berniat untuk saling berbagi pengalaman dalam hal memberikan dukungan terhadap istri yang sedang menyusui. Edukasi yang dilakukan tentu saja dengan menggunakan pendekatan melalui sudut pandang dan bahasa laki-laki sehingga dapat diterima dengan baik oleh para bapak ini.

 

Setelah membaca buku Catatan Ayah ASI  pun gua jadi tergerak untuk mencari tahu lebih banyak lagi tentang dunia pernenenan dan ASI. Mulai dari baca artikel-artikel yang ada di internet sampai ikutan kelas edukasi menyusui yang diadakan oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Berangkat dari hal itulah akhirnya gua pun berusaha untuk aktif ikut mengkampayekan pentingnya dukungan suami terhadap keberhasilan proses ibu menyusui.

 

Nah kalo elo mau tahu lebih banyak lagi bagaimana cara memberikan dukungan terhadap ibu menyusui, pantengin terus tulisan-tulisan di blog ini ya atau dengerin juga podcastnya ayah ASI. Kita sih memang bukan ahli tapi kita suka untuk berbagi. J

Workshop Ayah ASI


IDN Pictures dan gairah industri film Indonesia

IDN Pictures dan gairah industri film Indonesia Siapa yang suka nonton di bioskop? Gua adalah salah satu orang yang sangat menyukai nonton f...